Pecel 7Ribu Paling Nikmat Sepanjang Masa!!

Posted on

Hai semua, kali ini aku mau cerita tentang diriku semasa SD di Dahlanuddin. Tulisan ini bukan ditujukan untuk SEO atau apapun, cuma sedikit sharing aja pengalaman dulu pas kecil hehe.

Saat itu pertamakalinya aku diajak abi makan disitu. Tempatnya nggak terlalu besar, hanya terdiri dari 2 gerobak dari penjual yang berbeda, yang satu jualan bakso dan satunya jualan nasi beserta lauk pauk. Abi kesitu karena abi suka dengan baksonya, maka pesanlah abi semangkuk bakso dan segelas esteh.

“Kakak mau pesen apa?” tanya abi kepadaku, aku masih terdiam sejak pertamakali datang, memerhatikan suasana di tempat itu. Setelah berfikir sejenak akhirnya mataku tertuju pada satu menu yang sepertinya terlihat nikmat, ‘kakak pecel aja bi sama minumnya esteh jugak’.

Aku masih mengenakan seragam SDku karena baru pulang sekolah dan kebetulan abi yang menjemput. Kukira abi bakal langsung pulang karena hari itu panas pol, eh ternyata malah diajak makan dulu. Aku sih seneng aja saat itu, soalnya pada zaman itu makan diluar itu sebuah hal yang mewah dan jarang terjadi.

Setelah beberapa menit akhirnya datanglah pecel dan bakso pesanan tadi, disusul dengan 2 gelas esteh. Kuperhatikan pecel itu sebelum kumakan, ada kecambah dan sayur yang disiram bumbu kacang, ada sepasang tahu berbumbu bali merah, dan ada telur ceplok. Setelah bismillah kumulailah suapan pertama yang kumasukkan ke mulut, dan kurasakan betapa enaknya pecel itu. Entah karena jarang makan diluar atau karena saking laper dan panasnya hari itu atau karena memang enak. Bahkan setelah selesai suapan terakhir aku masih bisa merasakan lezatnya pecel itu.

Ditengah perjalanan kerumah aku penasaran dan tanya ke abi “bi, itu tadi pecelnya berapa harganya?”. Terus abi sambil ketawa menjawab ‘hahaha enak ta? Itu tadi 7ribuan kak’. (waah batinku)

Saat itulah aku mulai bertekad ‘pokoknya minggu depan kakak harus ngumpulin uang buat beli pecel itu sendiri’. Pada saat itu terasa berat banget, kenapa? Karena sehari uang jajan 2.000 rupiah, sedangkan kalo sekolah nggak jajan berarti mending nggausah main diluar. Mulailah hari pertama diriku nggak jajan sama sekali, tapi tetep main diluar sama temen-temen. “Bal, kon gak njajan ta? Gak nggowo duwik? Njaluk a?”, karena aku orangnya sungkanan pol akhirnya kutolak lah, dan menjalani sisa hari tanpa njajan.

Sampai pada hari ke-4, hari Kamis tepatnya duitku sudah terkumpul 8.000 rupiah, dengan berani yang seribu kubelikan jajan ke salah satu penjual di pinggir sekolah.

Siang itu panas sekali rasanya, menunggu pak guru menutup kelas dengan salam khasnya. Nggak satu pun rasanya ilmu yang masuk pada saat itu, aku hanya terlalu nggak sabar menanti waktu pulang sekolah.

Aku hanya memandang kosong ruangan kelas hingga tiba-tiba bel berdering memecah keheningan, langsung tanpa ba bi bu aku pamit dan keluar kelas. Kukayuh sepedaku di siang itu, mengantungi uang pas 7 ribu rupiah. Panas terik matahari nggak bisa mengalahkan niatku, kulit hitam? ‘Peduli amat’ pikirku, aku hanya mengayuh sambil membayangkan pecel itu.

Sesampainya di Pecel Ontoseno, aku langsung mendatangi pak penjual. Sembari menyodorkan uang dua ribuan 3 lembar dan seribuan selembar, aku memesan dengan lugunya “pak, pecel satu ya dibungkus”. Nggak kepikiran sama sekali kalo uangnya kurang harus gimana. Sesaat kemudian aku menerima sekantung kresek dengan bungkusan nasi pecel didalamnya, kulihat bungkusan itu bagai seorang pembunuh bayaran melihat imbalan atas pekerjaannya, sangat berharga.

Saat kukayuh sepedaku menuju rumah, mataku berbinar nggak karuan karena membawa bungkusan pecel tadi.

Sesampainya dirumah langsung kusembunyikan bungkusan pecel tadi, takut ada yang makan. Karena sudah kuperjuangkan pecel itu setengah mati, maka aku merasa harus memakannya dalam keadaan sesempurna mungkin. Aku langsung mandi dan sholat dan sebagainya, lalu dengan bangga kupamerkan ke abi dan ummi sebelum akhirnya kumakan.

Kubawa bungkusan pecel tadi ke pojok kamar menghadap tembok, lalu kubuka dengan perlahan, kuperhatikan ada berapa lipatan bungkusan di kertasnya. Kulihat ternyata masih ada pemandangan yang sama seperti saat pertamakali memakannya.

Setelah memandangi sambil tersenyum beberapa saat, akhirnya kumakan dan.. Rasanya jauh lebih enak dan nikmat dari saat makan pertamakali, ada rasa dari perjuangan 4 hari, juga berpanas-panas ria dibawah terik matahari, atau mungkin hanya karena terlalu lapar(?).

Kumakan perlahan sambil menikmati setiap kunyahannya, kurasakan setiap rempah yang ada sambil tersenyum bangga. ‘Sudah cukup’ batinku, aku yakin jika kuulangi, kejadian ini nggak akan bisa senikmat ini lagi ..

Leave a Reply

Your email address will not be published.